Dzikir : Sebuah Upaya Pendekatan Diri

dzikir di masjidTanpa terasa saat ini kita sudah berada di bulan Sya’ban, itu berarti sebentar lagi kita akan segera menyambut Ramadhan. Dengan semakin dekatnya kedatangan bulan suci yang selalu didambakan seluruh umat Islam ini, maka tidak ada salahnya kita mulai mengingat dan mempelajari kembali amalan-amalan yang disunnahkan dan dianjurkan untuk diperbanyak dalam bulan Ramadhan. Hal itu kita lakukan sebagai persiapan menyambut dan sebagai ungkapan kegembiraan kita atas akan segera hadirnya bulan suci tersebut. Diantara amalan-amalan yang perlu diperbanyak dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak mengingat Allah SWT dengan cara berdzikir.

Untuk itu, berikut akan kami nukilkan bagian terkait pengertian dzikir dan metode dzikir dari buku berjudul “40 Hadis Keutamaan Dzikir & Berdzikir” karya Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsji dan Dr. Ahmad Lutfi Fathullah Mughni, MA.

Dzikir dalam artian sederhana berarti mengingat, tentu saja yang dimaksudkan disini adalah mengingat Allah SWT. Secara umum ada tiga cara untuk mengingat Allah SWT, yaitu :
• Dengan Pikir
• Dengan Amal/Gerak
• Dengan Lisan

Dengan pikir, yaitu dengan cara melihat ayat-ayat Allah SWT, baik dengan melihat ciptaan Allah SWT berupa alam dan segala isinya, atau melihat diri sendiri. Untuk hal ini beberapa ayat Al Qur’an di bawah ini sudah mengisyaratkannya :

Arti Dzikir

QS. Al Hijr ayat 77 : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

 Tentang Dzikir

QS. An Nahl ayat 10-13 : “Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman : zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malamdan siang, matahari dan bukan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Alllah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.”

QS Adz Dzariyat ayat 20-21 :

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan.”

Dzikir juga dapat dilakukan dengan amal, seperti sholat. Sholat sendiri dalam Al Qur’an dikatakan sebagai media untuk mengingat Allah. Perhatikan firman Allah dalam QS. Thoha ayat 14 : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”

Dzikir juga dapat dilakukan dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan lafadz atau kalimat tertentu. Lafadz dzikir banyak dicontohkan dan bersumber dari hadits-hadits Rasulullah SAW. Lafadz-lafadz itu banyak yang beridri sendiri, banak pula yang digabung menjadi satu dan kadang ditambah dengan kata-kata yang searah.

Ketiga metode dzikir di atas akan berdampak sama, meski dengan kadar yang berbeda. Ada yang merasa lebih dekat dengan Allah SWT ketika sedang sholat, ada yang justru ketka berdzikir dengan ucapan tertentu. Ada juga yang dapat merasakan keberadaan Tuhan ketika melihat ciptaan-Nya, ketika sedang berada di atas gunung, atau di tengah laut, atau mengamati ciptaan Allah SWT yang sangat beragam.

Ketiga metode ini meski sama-sama diperintahkan Allah SWT, namun tidak bisa saling menggantikan. Sebagai contoh, orang yang asyik berdzikir lisan, tidak boleh meninggalkan sholat dengan alasan toh sama-sama mengingat Tuhan dan saya lebih menikmati dengan berdzikir dari pada sholat. Orang yang dapat merasakan kebesaran Allah SWT dengan melihat fenomena alam tidak boleh meninggalkan kewajiban sholat lima waktunya.

Pada puncaknya, ketiga metode ini dapat bersatu dalam diri seseorang. Ketika itu tercapai, maka tahapan keimanan seseorang pun akan meningkat. Dia bukan lagi berada pada tingkatan mukmin, akan tetapi menjadi mukmin. muslim, muhsin dan muttaqin. Potret ideal seperti inilah profil insan kamil, ia akan menjadi orang yang berguna bagi dirinya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, juga untuk umat manusia, bahkan ia juga akan berguna bagi alam sekitar.

Sumber : Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsji dan Dr. Ahmad Lutfi Fathullah Mughni, M, “40 Hadis Keutamaan Dzikir & Berdzikir”

Kontributor : ZAH

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru