Makna di Balik Musibah

Dalam perjalanan hidupnya, seorang hamba Allah umumnya akan pernah mengalami musibah akibat dari suatu bencana, kecelakaan, kehilangan, kekurangan dan lain sebagainya.
Dalam Al Qur’an Surat (57) Al Hadid ayat 22 Allah berfirman :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Dalam Surat (64) At Taghaabun ayat 11 Allah juga berfirman :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

‘‘Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah,. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“.

Lalu apa makna dibalik musibah yang menimpa hamba Allah ?
Ibnul Qayyim dalam kitabnya berjudul Al Fawaid menguraikan tentang musibah yang dialami hamba Allah sebagai berikut :
Jika seorang hamba tertimpa suatu maqdur (taqdir yang sedang berjalan) yang tidak ia sukai, hendaklah ia ketahui bahwa dalam hal itu ada 6 masyahid (pemandangan). Masyahid yang dimaksudkan disini adalah pemandangan kejiwaan dan keimanan yang bisa kita lihat pada orang-orang yang terkena maqdur makruh (taqdir yang sedang berjalan yang biasanya kurang disukai).

Enam pemandangan kejiwaan dan keimanan itu adalah :
1. Masyhadut-tauhid, pemandangan yang memperlihatkan ke-Esa-an Allah SWT, dan bahwasanya Allah lah yang mentaqdirkan, menghendaki dan menciptakan hal itu, dan apa yang Dia kehendaki niscaya terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki niscaya tidak terjadi. Maqdur makruh (taqdir yang sedang berjalan) akan menyingkap sejauh mana tauhid itu bersemayam di dalam dada kita, baik tauhid Rububiyyah (pengakuan dan keyakinan bahwa Allah SWT lah yang menciptakan, yang mengatur dan berbuat, yang memberi dan tidak memberi, yang menimpakan bahaya dan yang memberikan manfaat). Ataupun tauhid uluhiyah (bahwa Allah lah yang berhak disembah, diibadahi, dicinta dan ditunduki secara penuh). Intinya, musibah itu akan menyingkap dan membuka hakekat kejiwaan dan keimanan yang ada dalam jiwa kita, apakah kita tetap ber tauhid atau tidak lagi ber tauhid.
Terkait dengan ini Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata :“Beriman kepada Qadar itu sistem atau sumbu atau as utama tauhid, siapa mendustakannya itu akan memporakporandakan tauhidnya, dan siapa beriman kepada Qadar, maka keimanannya itu membuktikan tauhidnya“.

2. Masyhadul Adli, pemandangan yang memperlihatkan keadilan Allah, dan bahwasanya pada hamba itulah hukum-hukum Allah berjalan, dan bahwasanya keputusan-Nya itu adil adanya. Terkait dengan ini doa yang diajarkan Rasulullah untuk mengusir kesedihan adalah sbb :“ Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba lelaki-Mu, putera hamba lelaki-Mu, putera hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada ditangan-Mu, kakiku berjalan atas Keputusan-Mu, saya memohon kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai diri-Mu dengan nama itu, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluq-Mu, atau telah Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau masih Engkau simpan pada ilmu ghaib disisi-Mu, jadikanlah Al Qur‘an sebagai hujan penyiram hatiku dan cahaya dadaku serta sirnanya kesedihan dan kegundahan hatiku.

3. Masyhadur-rahmah, pemandangan yang memperlihatkan kasih sayang Allah, dan bahwasanya kasih sayang Allah dalam maqdur itu lebih dominan daripada kemurkaan dan pembalasan Allah.
Terkait dengan ini, Umar bin Khatab r.a bila tetimpa suatu musibah dia mengatakan :“Segala puji bagi Allah yang tidak menimpakan musibah yang lebih besar daripada yang sekarang terjadi, dan bahwasanya musibah itu hanya menimpa aspek duniawi saya saja dan tidak menimpa aspek ukhrawi saya“.
Inilah ungkapan yang menggambarkan pengakuan dan keimanan Umar atas rahmah dan kasih sayang Allah, sebab, bagaimanapun besarnya musibah yang dideritanya ia masih tetap kecil, sebab, sangat mungkin Allah menimpakan musibah yang lebih besar, dan yang lebih penting, musibah itu tidak menimpa aspek keagamaannya, maksudnya ia masih tetap Islam dan iman dan menapaki tangga ihsan. Diantara doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT adalah berdasarkan hadist At-Tirmidzi dan Al Hakim :“..dan janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami….“.
Termasuk dalam hal ini adalah bahwa Allah SWT menimpakan musibah itu di dunia, dan musibah sekecil apapun akan mengurangi dosa kita, yang berarti akan mengurangi siksa kita di akhirat atau menghilangkannya sama sekali. Rasulullah bersabda :”Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa penyakit menahun, atau rasa capek atau sakit, atau kesedihan, bahkan termasuk kegundahan yang menimpanya kecuali semua itu menjadi penghapus dosa-dosanya”.

4. Masyhadul hikmah, pemandangan yang memperlihatkan hikmah Allah, dan bahwasanya hikmah Allah menghendaki hal itu, dan hal itu tidak Dia taqdirkan sia-sia, tidak pula qadha’ itu main-main. Terkait dengan hal ini perlu kita ketahui dan kita yakini bahwa salah satu nama Allah adalah al Hakiim (Maha Hikmah), maksudnya segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Karenanya kita musti mencari hikmah dibalik musibah yang terjadi itu.

5. Masyhadul hamdi, pemandangan yang memperlihatkan berhaknya Allah untuk mendapatkan sanjungan dan pujian, dan bahwasanya milik Allah segala bentuk pujian yang sempurna atas hal itu dari segala sisinya.
Masyhadul hamdi ini sangat terkait dengan sikap Umar bin Khatab yang telah dikemukakan sebelumnya. Yaitu bahwa milik Allah lah segala bentuk pujian, dan bahwasanya lahul hamdu til ula wal akhirah (untuknya pujian, pada yang pertama dan terakhir).

6. Masyhadul ubudiyyah, pemandangan yang memperlihatkan bahwa manusia yang tertimpa musibah itu hanyalah seorang hamba murni dari segala sisinya, padanya berjalan semua hukum dan qadha’ tuannya, sebab statusnya adalah milik dan hambanya, karenanya, Dia memperlakukannya sesuai dengan hukum qadar-Nya. Jadi , hamba itu tempat berjalannya hukum-hukum ini.

Bila kita bisa merenungi dan menghayati enam masyahid ini, Insya Allah segala bentuk maqdur yang menimpa kita akan semakin mengokohkan keimanan dan kekuatan ruhani kita.
Amiin 3X ya rabbal alamin.

kontributor : HBS

Referensi :
1. Al Qur‘an dan Terjemahnya, Dept. Agama RI
2. Al Fawaid, Ibnul Qayyim
3. Www.MyQuran.org

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru