Cinta Allah dan 6 Jalan Menuju Tauhid Paripurna

Ringkasan Kuliah Subuh
Pemateri : Ust. Ahmadi Usman, MA
Kontributor : H. Budhi Santoso

CINTA ALLAH KEPADA HAMBANYA

Cinta Allah dan TauhidDalam Al Qur’an surat Al Mulk Allah berfirman bahwa Allah mencintai kita, cinta Allah tidak berbatas. Cinta Allah ini salah satunya ditampilkan dalam ayat-ayat qauliyah atau kauniyah. Allah berikan hujan, berikan air,Allah cukupkan oksigen, Allah berikan nikmat dan ketenangan, itu adalah bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya dalam bentuk alam semesta.

Dan Allah Swt bukan saja mengajarkan kita tentang cinta-Nya dengan ayat-ayat qauliyah, namun juga dalam ayat-ayat kauniyah. Jika seseorang mencintai sesuatu, maka ia akan memuliakan sesuatu itu. Allah memerintahkan kepada kita dalam beberapa ayat Al Qur’an dengan sesuatu yang sangat menakjubkan. Ada sejumlah surat yang dimulai dengan kalimat tasbih (misalnya tabaarakalladzi…, sabhikhisma..dll), kalimat yang mensucikan dzat yang sedang disebut namanya yaitu Allah Swt.

Dalam surat Al Mulk ini Allah mengajak hambanya untuk mencintainya dengan kalimat tabarok,dari kalimat barokah yang artinya memiliki nilai tambah. Misalnya seseorang memiliki harta yang berkah maka hartanya itu cukup, tidak perlu banyak atau sedikit yang jelas cukup untuk kebutuhannya. Keberkahan itu penting karena harta banyak yang tidak berkah tidak memenuhi kebutuhan, tapi harta yang halal dan berkah pasti membawa ketenangan bagi pemiliknya. Hanya Allah lah yang mampu memberi keberkahan secara total karena Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu dan Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian.

Kematian yang bisa jadi menakutkan itu adalah milik Allah Swt., sehingga tidak ada alas an bagi kita untuk tidak takut kepada Allah Swt. Apa artinya kehidupan dan kematian itu apabila tidak mempunyai nilai. Allah berfirman bahwa Dia tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, semua manusia akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kita tidak boleh menjadikan kehidupan kita itu sia-sia yang artinya menyia-nyiakan akhirat.

Ada kisah menarik antara Nabi Ibrahim a.s dengan raja Namrudz yang mengaku bisa menghidupkan dan mematikan. Nabi Ibrahim mengatakan :”Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan”, maka Namrudz mendatangi satu kamar penjara yang ada dua orang tahanan dan mengambil seorang tahanan lalu membunuhnya. Lalu dia nyatakan bisa menghidupkan dan mematikan. Padahal makna menghidupkan adalah membuat yang tidak ada menjadi ada, kemudian menjadikan yang tadinya ada menjadi tidak ada dan lalu ada lagi.

Tujuan Allah menghidupkan dan mematikan lalu menghidupkan lagi adalah untuk menguji siapa yang paling baik amalannya bukan saja yang paling banyak amalannya. Amal yang berkualitas adalah apabila dilakukan dengan ikhlas. Dalam konteks aqidah, maka jika di dalamnya ada unsur ke ikhlasan, tidak bercampur, murni, maka itu akan dipahami sebagai aqidah yang murni dan mempunyai kualitas yang tinggi. Lalu agar amal itu berkualitas adalah apabila dilakukan secara istiqomah, terus menerus meski sedikit. Maka kalau ada orang yang beribadah hanya kadang-kadang (bolong-bolong), maka itu tidak berkualitas.

Pada akhirnya Allah lah yang mampu memberi balasan dan mampu mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Maka tujuan ujian dari Allah adalah agar kita kembali kepada Allah dan kita bertobat maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Maka jangan jadikan ujian sebagai perasaan kesengsaraan tapi sebagai batu loncatan agar kita kembali kepada Allah Swt.

Sebelumnya kita telah bahas nama-nama ilmu tauhid seperti aqidah, ilmu kalam, ushuludin. Arti tauhid bisa menunggalkan (wahid) atau menganggap satu-satunya (ahad), maka kalimat tauhid adalah menganggap satu-satunya, seperti dalam surat Al Ikhlas”Qul huwallahu ahad”, tidak ada pecahannya, sedang kalau wahid bisa ada setengah. Untuk menjadikan Allah itu satu-satunya itu butuh ilmu. Maka ilmu tauhid adalah sebuah upaya bagaimana kita memiliki pemahaman bahwa memang Allah lah satu-satunya Tuhan.

Dalam hadits banyak kita temukan kalimat tauhid, yang dimaksud adalah “Laa ilaaha illallaahu”. Kekuatan dan kualitas tauhid kita tergantung pada pemahaman atas kalimat tauhid ini yang tegas dan ada ketetapan, tidak ada ambivalensi. “Tidak ada Tuhan kecuali Allah”. Tidak ada yang memberikan rezki, kesehatan, kecuali Allah. Tidak ada yang bias menjadikan hati tenang kecuali Allah. Jika itu semua tertancap dalam diri kita maka hanyalah Allah lah yang terbayang. Kita hanya tergantung kepada Allah bukan kepada yang lain.

Salah satu kisah menarik adalah sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf yang meninggalkan seluruh hartanya di Mekah saat berhijrah ke Madinah. Dia menolak diberi harta bahkan isteri oleh sahabat Anshar, hanya minta ditunjukkan di mana pasar. Dengan keyakinan akan ketauhidannya yang tidak pernah goyah dia menjadi kaya kembali. Meski seseorang berada di mana saja asalkan dia mempunyai konsep ketauhidan yang tinggi dia akan berhasil dalam usahanya karena dia yakin masih punya Allah. Semua akan menjadi kecil kalau kita ingat Allah.

Ada seorang sahabat yang habis nikah namun karena ketauhidannya yang tinggi tanpa sempat bulan madu dia pergi berperang dan mati sahid. Itulah kalimat tauhid yang memberinya kekuatan dan memberikan ketenangan hati.

Dalam hadits-hadits Rasulullah kalimat tauhid ini banyak disebutkan.

Pertama,
”Barangsiapa yang ketika dia meninggal dan dia dengan sadar mengetahui dirinya bertauhid kepada Allah Swt dengan mengucapkan “Laa ilaaha illallaahu” maka Allah akan masukkan dia kedalam surga.”

Namun ini bukanlah hal yang mudah. Karena terlalu banyak dalam pikiran yang ingin disampaikan maka terlupakanlah kalimat tauhidnya. Godaan setan juga terlalu kuat pada detik-detik terakhir kematian sehingga menyelewengkan kita dari kalimat tauhid.

Dalam hadits yang lain disebutkan:
”Aku bersaksi bahwa tuhanku adalah Allah dan tidak ada tuhanku kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah, maka orang yang menyebutkannya tanpa keraguan maka dia akan dimasukkan Allah kedalam surga.” (diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Lalu ada hadits lain mengatakan:
”Barangsiapa mengucapkan kalimat syahadat dengan jujur dan tulus maka Allah mengharamkan dia dari siksa api neraka.”

6 JALAN MENUJU TAUHID PARIPURNA
untuk menanamkan kalimat tauhid itu secara paripurna dalam diri seseorang ada syaratnya, yaitu :

1. Berilmu
Ilmu mengetahui tentang dzat dan kekuasaan Allah. Allah mengajarkan kita dalam surat Muhammad ayat 19:
” Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” Ayat ini merupakan perintah untuk mengetahui makna kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaahu”.

Kalimat tauhid ini adalah kalimat yang sangat mahal yang dengan itu Nabi Ibrahim siap dibakar oleh raja Namrudz. Apabila kita masih merasa berat kepada sesuatu maka artinya kita masih mencintai sesuatu lebih dari cinta kita kepada Allah swt.
Dalam surat Az-zukhruf : 86 Allah berfirman:” Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).”

Dalam hal ini minimal ada 3 hal bahwa persaksiannya itu betul-betul menyaksikan, yang pertama hatinya, yang kedua mulutnya dan yang ketiga adalah amalannya.

Dalam surat Az-zumar ayat 9 Allah berfirman:” (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
Jadi orang yang sadar dan tahu akan makna kalimat tauhid berbeda dengan orang yang tidak tahu sehingga kualitas tauhidnya berbeda pula meski sama-sama melakukan suatu ibadah. Yang pertama dalam kehidupannya tenang, yang kedua belum tentu. Konsep ketauhidan dapat mengubah dengan cepat sanjungan menjadi kebencian, seperti apa yang dialami seorang pemimpin Yahudi yang masuk Islam bernama Abdullah bin Salam. Suatu ketika dia berdialog dengan Rasulullah. Pengikutnya merasa bangga melihat pemimpinnya berdialog dengan Nabi. Ketika Rasulullah minta agar dia menyampaikan apa yang dibicarakan yang ternyata bahwa dia menyatakan bahwa dia lebih lebih mengetahui siapa Muhammad daripada dirinya sendiri dan kerabatnya yang dia peroleh dari kitab-kitab suci yang dia baca (Taurat dan Injil).

Pengikutnya belum mengetahui kalau dia telah masuk Islam dan menyatakan bertauhid kepada Allah Swt. Begitu dia menyampaikan bahwa ia telah masuk Islam maka pengikutnya marah dan memaki-makinya. Sebaliknya kalimat tauhid bisa mendekatkan orang yang tadinya jauh seperti mualaf yang disambut dengan sukacita ketika dia telah mengucapkan syahadat.

Untuk menggapai ketauhidan yang berkualitas musti melalui proses yang terus berganti antara suka dan duka, sehat dan sakit, kekurangan dan kecukupan dalam kehidupan ini. Seseorang akan mendapatkan tauhid kalau dia mengalami ujian bertubi-tubi dalam hidupnya. Kalau kita bangun persepsi bahwa kita punya Allah Yang Maha Besar maka semua menjadi kecil. Namun bila semua dianggap besar maka seolah-olah Allah kecil dan tidak bisa membela kita padahal Allah membela manusia tidak harus sesuai dengan keinginan manusia. Jadi Allah membela manusia dengan berbagai cara yang manusia tidak pernah tahu.

Contoh kejadian seperti batal berangkat naik pesawat disesali karena macet di jalan, namun akhirnya disyukuri karena ternyata pesawat yang akan dinaiki jatuh dan semua penumpangnya tewas. Orang-orang yang sukses sebelumnya dia tidak tahu kalau dia akan sukses, yang dia jalankan adalah berusaha yang pada saatnya Allah akan tunjukkan bahwa dia sukses. Allah menguji tingkat kesabaran seseorang. Jadi untuk memahami tauhid maka lewati hidup dengan ikhlas, sabar dan tawakal.

2. Dengan keyakinan.
Jadi kalau kita tidak yakin maka tidak bisa memahami tauhid. Jika kita harus melewati sebuah hutan yang berbahaya maka sejauh mana keyakinan kita Allah akan melindungi kita maka sejauh itu pulalah kemampuan kita untuk melewatinya. Kalaupun kita meninggal maka kita meninggal dalam ketauhidan.
Seandainya kita selamat maka itu karena Allah lah yang menyelamatkan. Imam Bukhari hafal 600 ribu hadits, setelah istikharah disensor menjadi 200 ribu, lalu menjadi 100 ribu, kemudian yang terakhir dicatat sekitar 7200 hadits yang kita kenal dengan sahih Bukhari. Tiap hadits yang dia catat selalu diawali dengan istikharah, berapa tahun beliau melakukan istiqarah.

Sekarang dalam kehidupan kita berapa kali kita istikharah, artinya kita minta pilihan itu Allah yang menentukan karena dengan istikharah itulah membuktikan bahwa manusia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada Allah.

Ada satu kisah ketika ayah imam Syafei makan delima, baru satu gigitan dia bertanya-tanya delima ini punya siapa, lalu dicarinya siapa pemilik delima itu sampai berkilo-kilo meter jauhnya akhirnya ketemu. Pemilik kebun yakin kalau ayah imam Syafei ini orang sholeh karena hanya makan delima satu gigitan sampai berjalan berkilo-kilo meter mencari pemiliknya. Karena melihat kesholehan ayah imam Syafei maka disuruhnya kerja lalu dinikahkan dengan anaknya yang lalu melahirkan imam Syafei yang memiliki kecerdasan luar biasa dan keberkahan ilmu dan umur.
3. Menerima kalimat tauhid dengan tulus.
4. Selalu taat kepada Allah karena kalimat tauhid.
5. Jujur, antara perkataan dan perbuatan harus sama
6. Ikhlas dalam menyebut dan memahami kalimat tauhid.
Itulah 6 jalan untuk menyempurnakan tauhid kita.
Wallau a’lam bishshawab

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru