Ciri-Ciri Ibadurrahman dalam Al Quran

ibadurahman ciriRingkasan Kuliah Subuh Ustadz Karantiano S Putra, 3 Mei 2014

Adapun ciri-ciri ibaadurahmaan ada 8 termuat dalam Al Quran, surat Al Furqan 63 hingga 76. Dalam kesempatan ini akan disampaikan 5 ciri sebagai berikut:

1. Tawadhu’ (Rendah Hati)

Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. 25:63)

Inilah sifat pertama ‘Ibaadurrahman, yaitu mereka berjalan di atas bumi dengan sangat enteng dan ringan, tidak dibuat-buat, tidak sombong atau pun melengos. Mereka tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjuk-kan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Tetapi mereka berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian dan jiwa muda. Mereka mengetahui betul wasiat Luqman kepada anaknya sebagaimana diinformasikan Rabbnya, artinya, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (QS Luqman:19). Maksudnya adalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atau keterlaluan sekali.

 

2. Lemah Lembut

Yaitu sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran yang artinya,
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [QS 25:63]

Ini merupakan sifat ke dua ‘Ibaadurrahman, yaitu bila orang-orang jahil mengucapkan ucapan yang buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama tetapi mema’afkan. Tidak berkata kecuali yang baik, mereka tidak terpancing oleh kejahilan orang tersebut, tetapi menahan lisan dan emosi mereka.

 
3. Melakukan Qiyamullail

Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya,

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” [QS 25:64]

Allah subhanahu wata’ala menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun shalat tahajud saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyongsong Rabb mereka, menggantungkan jiwa dan anggota badan mereka kepada-Nya.

Saat orang-orang terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka justeru menginginkan ‘Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya’ dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.

Saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tiada tara serta kenikmatan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail

4. Takut Api Neraka

Sebagaimana firman-Nya, artinya,

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [QS 25:65-66]

Sekalipun ‘Ibaadurrahman sangat ta’at dan hati mereka dipenuhi dengan ketakwaan namun mereka selalu merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.

Mereka selalu memohon kepada Allah agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya atau pun penghuni semen-taranya. Inilah sifat setiap Mukmin yang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta’at dan takut akan adzab Allah subhanahu wata’ala.

5. Ekonomis Dalam Pengeluaran dan Tidak Boros

Sebagaimana firman-Nya, artinya,

“Dan orang-orang yang apabila membe-lanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS 25: 67]

‘Ibaadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan sebab mereka mengetahui benar bahwa boros akan merusak jiwa dan harta. Orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakkan.

Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’alatelah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan menghindari pelakunya.

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru