Perumpamaan Orang-Orang Munafik

Ringkasan Kuliah Subuh
Tafsir Surat Al Baqoroh ayat 17 s/d 20
Masjid Raya Taman Yasmin, 07 Desember 2013
Oleh Ustadz KH. Abbas Aula Lc. MHI

Pada pembahsan sebelumnya, dalam surat Al Baqoroh ayat 1 – 20, manusia digolongkan dalam 3 golongan, yaitu :
1. Orang beriman (Ayat 1 – 5)
2. Orang kafir (Ayat 6 – 7)
3. Orang munafik (8 – 20)

Melanjutkan penjelasan golongan orang munafik pada ayat-ayat sebelumnya, ba’da subuh pagi ini diberikan penjelasan tentang gambaran atau perumpamaan dari golongan orang munafik seperti dijelaskan pada ayat 17 s/d 20 dengan tafsir sebagai berikut :

Al Baqarah : 17

“Perumpamaan mereka (kaum munafik) itu adalah bagai orang yang menyalakan api dan tatkala cahaya api itu telah menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menerangi mereka) dan meninggalkannya dalam kegelapan tidak dapat melihat apa-apa.”

Orang munafik yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah orang-orang munafik dari ahli kitab (Yahudi). Mereka telah beriman kepada kitab-kitad dan rasul-rasul yang telah lalu, maka seharusnya mereka beriman kepada Al Qur’an dan Nabi Muhammad SAW, karena kedatangan Rasulullah telah disebutkan dalam kitab-kitab mereka. Namun disebabkan karena dipengaruhi oleh kebesaran mereka di masa lampau, maka mereka tidak mau beriman. Mereka itu tak ubahnya seperti orang yang menyalakan api, ketika menyinari sekelilingnya, tiba-tiba api itu padam, sehingga mereka berada dalam gelap gulita.

Hal tersebut dinyatakan pula dalam Surat Munafqun ayat 3 yang artinya :
“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti”.

Al Baqarah : 18

“Merela tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali ke jalan yang benar”.

Ayat ini menerangkan orang-orang munafik itu tidak hanya seperti orang-orang yang kehilangan cahaya terang, tetapi juga seperti orang yang kehilangan beberapa panca indera pokok. Tidak dapat mendengar, bicara dan melihat. Orang seperti itu tentu akhirnya mengalami kebinasaan.

Tuli, bisu dan buta diartikan secara maknawi, artinya mereka telah ditutup Allah SWT dari cahaya iman. Mereka dikatakan tuli karena mereka tidak dapat mendengarkan nasihat dan petunjuk bahkan mereka tidak paham, meskipun mereka mendengar. Mereka dikatakan bisu karena mereka tidak mau menanyakan hal-hal yang kabur bagi mereka, tidak meminta penjelasan dan petunjuk, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengambil manfaat dari segala pelajaran dan pengetahuan yang disampaikan Rasulullah. Mereka dikatakan buta karena mereka kehilangan manfaat pengamatan dan manfaat pelajaran. Mereka tidak dapat mengambil pelajaran dari segala kejadian yang mereka alami dan pengalaman bangsa lain. Mereka tidak dapat kembali ke jalan yang benar karena sifat-sifat tersebut.

Al Baqarah : 19

“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya karena (menghindari) suara petir karena takut mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.”

Dalam ayat ini Allah SWT mengumpamakan orang munafik seperti keadaan orang yang ditimpa hujan lebat dalam kegelapan mendung, penuh dengan suara petir yang menakutkan dan cahaya kilat yang menyambar, sehingga mereka mentup telinga karena takut binasa.
Orang-orang munafik selalu dalam keraguan dan kecemasan menghadapi cahaya Islam. Mereka beranggapan Islam hanya akan membawa kemelaratan, kesengsaraan dan penderitaan.

Al Baqarah : 20

“Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan dibawah (sinar) itu, dan apabila gelap (menerpa) mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat ini berhubungan erat dengan ayat sebelumnya, seolah-olah ayat ini menyambung pertanyaan ‘Bagaimanakah kedaan mereka dengan kilat itu ?” Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Berapa besar kesulitan yang mereka hadapi. Mereka melangkah bila ada sinar kilat dan berhenti bila sinar itu hilang.

Demikianlah orang-orang munafik itu, mereka mendapatkan sinar iman karena kesaksian mereka pada kebenran ayat Ilahi dan timbul keinginan untuk mengikuti dakwah Rasulullah, namun karena kefanatikan yang kuat dan kecemasan terhadap tentangan orang banyak, sehingga menghilangkan sinar iman itu dan akhirnya tetap membeku dan kebingungan di tempatnya.

Allah berkuasa menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka, sehingga mereka tidak dapat memahami pelajaran dan tidak dapat memanfaatkan petunjuk. Namun Allah SWT tidak berbuat demikian meskipun Dia Maha Kuasa.

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa golongan orang munafik ini selalu terombang-ambing antara iman dan kufur. Suara hati nurani mereka cenderung pada kebenaran, tapi nafsu pribadi dan setan disekitarnya membawanya pada kesesatan. Orang munafik tidak memperoleh hidayah atau petunjuk dari Allah SWT dan mereka terus dalam kesesatan.

Kontributor : ZA Hasan

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru