Sudahkah Sampai Kepadamu tentang Kisah Musa?

Catatan Kuliah Subuh Masjid Raya Taman Yasmin – Bogor
Sabtu, 16 Maret 2013
Materi : Tafsir Al Quran, oleh Ust. Hasan Rifai
Kontributor : H. Budhi Santoso

Al Qur’an surat An-Naazi’aah bagian kedua, ayat 15 – 26:
“Hal ataakahadiitsu Muusa” (Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.)

“Idznaa daahu rabbuhuu bil waadilmuqadda si thuwaa” (Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah (wadi) suci ialah Lembah Thuwa;)

“Idzhab ilaa firauuna innahuu thaghaa” (“Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas,)

“Faqul hallaka ilaa antazakaa” (dan katakanlah (kepada Firaun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”)

“Wa ahdiyaka ilaa rabbika fatakhtsaa” (Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu (Islam) agar supaya kamu takut kepada-Nya?”)

“Faaraahul aayatalkubraa” (Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.)

“Fakadzaba wa’ashaa” (Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai.)

“Tsumma adbarayasaa” (Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).)

“Fakhatsara fanaadaa”( Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.)

“Faqaala ana’ rabbukumul a’laa” ((Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.)

“Faakhadzahullahu nakalal aakhirati wal uula” (Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.”

“Inna fiidzaalika la’ibratallimayyakhtsaa”( Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).)

kuliah subuh kajian islam masjid raya yasminPada bagian pertama surat ini telah dibahas tentang pencabutan nyawa ketika manusia mengakhiri kehidupannya didunia maka Allah memerintahkan kepada malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya. Sebagian manusia dicabut nyawanya dengan cara yang sangat kasar dan sebgaian yang lainnya dcabut dengan cara yang lembut. Pada bagian pertama juga dibahas tentang orang-orang yang yakin akan hari akhirat dan orang-orang yang meragukannya. Bagi yang tidak yakin mereka terkejut karena mereka tidak menyangka tulang belulang yang sudah remuk dapat dikembalikan seperti wujud ketika masih hidup didunia. Dan disanalah kita mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat didunia.

Pada bagian kedua surat ini dikisahkan tentang Nabi Musa dan Fir’aun. Biasanya ketika seseorang mendapatkan kebaikan-kebaikan di dunia dan nyaris permanen, itu seringkali membuat seseorang sombong, seperti orang sehat terus, orang kaya terus atau orang berkuasa terus akan membuatnya sombong. Namun bila seseorang menggantungkan semuanya kepada Allah itu semua tidak akan menggoyahkan keimanannya seperti Nabi Sulaiman. Tapi sebagian besar manusia tidak demikian, bukannya taat tapi malah menentang.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disini Allah Swt menceritakan kepada Nabi Muhammad Saw tentang kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Nabi Musa diperintahkan Allah Swt pergi kepada penguasa yang sangat hebat pada waktu itu yaitu Fir’aun yang kafir dan sangat melampaui batas dimana Allah Swt membekali Nabi Musa dengan mukzizat. Allah menyiksa Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Inilah akibat dari orang-orang yang mendustakan apa yang disampaikan Nabinya dari Allah Swt. Ini bercerita tentang sebuah kaum yang menentang atas apa yang dihadirkan Allah Swt berupa petunjuk-Nya yaitu kitab-Nya maka pasti mereka akan mendapatkan siksaan dari Allah Swt. Ada kaum Adz, kaum Luth, kaum Nabi Nuh, ada raja Namrudz dan lain-lainnya yang menentang Allah Swt dan Rasul-Nya pasti diazab oleh Allah Swt. Cuma bedanya kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad Saw diazab langsung didepan umatnya untuk member pelajaran kepada manusia saat itu dan sampai akhir zaman.

Tetapi di zaman Nabi Muhammad Saw dan sesudahnya jika ada satu kaum yang melampaui batas dalam bermaksiat kepada Allah maka tidak selalu diazab langsung karena Allah menunda dan memberikan waktu kepada mereka untuk sadar dan bertaubat . Bukan berarti mereka tidak akan pernah diazab oleh Allah Swt. Mereka akan diazab setelah kematiannya. Jadi kalau ada orang yang bermaksiat tapi hidupnya senang terus maka tidak perlu iri hati karena azabnya ditunda. Makanya pada ayat di ujung bagian kedua surat ini disebutkan bahwa kisah Nabi Musa dan Fir’aun sebagai pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada Allah karena kisah ini adalah kisah yang luar biasa.
Sebelum turun perintah Allah Swt kepada Nabi Musa, posisi Nabi Musa saat itu sedang mengembara keluar dari kerajaan Fir’aun karena kasus perkelahian antara orang Bani Israel dengan orang Qibti dimana orang Bani Israel ini mengadu kepada Nabi Musa yang lalu memukul orang Qibti Mesir tersebut dan tewas.

Dicarilh siapa yang membunuhnya tapi tidak ketemu.Pada waktu lain orang Bani Israel ini berkelahi lagi dengan orang Qibti maka Nabi Musa marah kepada orang Bani Israel tersebut. Orang Bani Israel itu takut maka ia berteriak:”Ya Muasa apakah engkau juga akan membunuhku seperti ketika aku berkelahi dengan orang Qibti dulu!” Maka lalu diketahuilah oleh orang banyak bahwa yang membunuh orang Qibti dulu adalah Nabi Musa. Maka Nabi Musa lari keluar dari kerajaan Fir’aun dan mengembara kemana-mana dan akhirnya mendapat wahyu dari Allah Swt untuk pergi kepada Fir’aun.

Kaum Bani Israel sendiri adalah kaum imigran yang hidup berhasil di Mesir diawali dengan kisah Nabi Yusuf yang berhasil menjadi pejabat negara kerajaan Fir’aun urusan logistic yang membawa keluarga besarnya pindah ke Mesir dan lalu diikuti orang-orang Bani Israel lainnya. Setelah berganti generasi sampailah suatu saat Fir’aun bermimpi dikejar api yang takwilnya adalah akan lahir seorang bayi yang akan menjadi musuh Fir’aun dikemudian hari. Maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir. Fir’aun juga memaksa kaum Bani Israel melakukan kerja paksa membuat pyramid.

Ketika ibu Nabi Musa yang juga imigran di kerajaan Fir’aun melahirkan Nabi Musa maka dihanyutkanlah bayi Musa ke sungai Nil dan ditemukan Aisyah isteri Fir’aun. Karena dia tidak mempunyai anak maka dia minta izin kepada Fir’aun untuk dipeliharanya. Ibu Musa pun akhirnya hidup dalam lingkungan kerajaan Fir’aun karena menjadi ibu susuan bagi Musa. Dan Musa juga hidup dan besar dalam lingkungan kerajaan Fir’aun sampai terjadi kasus perkelahian yang diceritakan diatas.

Ketika Nabi Musa kembali ke kerajaan Fir’aun karena diperintahkan Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka Fir’aun menyombongkan dirinya dan lalu memanggil pembesar-pembesarnya, para tukang sihir dan rakyatnya dimana tukang-tukang sihir tersebut menyihir tali-tali yang dipegangnya menjadi ular-ular kecil yang akan mengeroyok Nabi Musa. Namun ular-ular kecil itu dimakan oleh ular besar dari tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular atas mukzizat dari Allah Swt. Hal ini untuk menunjukkan bahwa apa yang dibuat Allah Swt tak mungkin dikalahkan dengan apa yang dibuat manusia. Tapi Fir’aun mendustakan apa yang telah disampaikan Nabi Musa dari Allah Swt. bahkan berpaling dan menentangnya. Ketika sebagian tukang sihir tersebut beriman kepada Tuhannya Nabi Musa maka mereka dihukum dengan dimasukkan kedalam lubang yang didalamnya dinyalakan api.

Kekalahan tukang sihir itu tidak membuat Fir’aun tunduk untuk menerima hidayah tapi malah membuatnya sombong dan mengaku dirinya adalah tuhan yang maha tinggi kepada pembesar-pembesar dan rakyatnya yang masih taat kepadanya. Maka Allah mengazabnya baik diakhirat dengan siksaan neraka selama-lamanya maupun didunia dengan menenggelamkannya di laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan Bani Israel. Mayat Fir’aun terdampar di pantai yang lalu dimumikan sampai sekarang ada di museum Kairo dan dikenal sebagai Ramses II.

Dapat diambil pelajaran dari kisah ini bahwa kita tidak boleh berhenti berdakwah kepada orang yang jahat atau yang dikatakan hatinya telah mati seperti yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa untuk berdakwah kepada Fir’aun. Dakwah harus dilakukan sampai dia meninggal atau kita yang meninggal. Pelajaran selanjutnya adalah apa yang dibuat Allah Swt tak mungkin dapat dikalahkan dengan apa yang dibuat manusia. Pelajaran berikutnya adalah ketika seorang pemimpin salah atau terbukti salah maka sebagaian mereka tidak sadar akan kesalahannya tapi malah menyombongkan dirinya untuk menunjukkan kekuasaannya, dan ini terlihat sampai sekarang.

Kemudian jika kita diberikan kelebihan baik harta atau kekuasaan yang besar jadikanlah itu untuk bersyukur kepada pemberinya yaitu Allah Swt dalam bentuk ketaatan kepada-Nya bukannya malah digunakan untuk menentang pemberinya.
Wallahu a’lam bishshawab.

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru