Tafsir Al Baqarah Ayat Tiga

Ringkasan Kuliah Subuh Sabtu 6 April 2013
Materi: Tafsir QS Al Baqarah ayat 3
Pemateri: KH Abbas Aula, Lc. MHI

Tafsir Al Baqarah

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka.” (QS Al Baqarah 3)

Ayat ketiga ini menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa. Ciri yang pertama adalah beriman kepada yang ghaib. Iman kepada yang ghaib adalah beriman kepada Allah swt, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan qadha/qadar Allah swt. Juga termasuk keimanan kepada yang ghaib adalah beriman kepada sifat dan nama-nama Allah swt Keimanan kepada yang ghaib ini harus merujuk kepada Alquran dan hadits Nabi, karena panca indera kita terbatas dan tidak bisa menjangkaunya kecuali dengan penjelasan Alquran dan hadits Rasulullah saw..

Ciri yang kedua adalah yuqiimuunash sholata (mendirikan sholat). Kenapa Allah swt menggunakan kalimat mendirikan sholat? Kata yuqiimuuna (mendirikan) memerlukan syarat agar sesuatu tersebut bisa berdiri. Mendirikan sholat, tidak cukup secara lahiriah mengerjakan gerakan-gerakan sholat seperti takbir, ruku, sujud, tetapi harus disertai dengan menunaikan syarat-syarat, rukun-rukun, dan ruh sholat (menghadirkan hati dalam sholat). Mendirikan sholat  juga berarti mentadabburi serta menghayati bacaan sholat. Sholat seperti inilah yang dapat mencapai esensi sholat, yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar (QS Al Ankabut: 45)

Syaikh Muhammad Syaltut, seorang ulama besar yang pernah menjadi rektor Universitas Al Azhar mengatakan bahwa sholat terdiri dari jasad (takbir, ruku, sujud, dst) sedangkan ruhnya ialah menghadirkan hati.

Orang yang sholat lahirnya saja tanpa menghadirkan ruh, bisa digolongkan kepada orang munafik karena sholat seperti ini tidak akan melahirkan kesesuaian antara yang dibaca dan dilakukan dalam sholat dengan amaliyah sehari-hari. Sholat orang seperti ini tentu tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.

Sholat yang dilakukan dengan ikhlas dan mencontoh Rasulullah saw dapat meningkatkan kualitas sholat yang pada gilirannya dapat menimbulkan sifat optimis dalam menatap kehidupan.

Orang yang mendirikan sholat tidak hanya mengerjakan sholat wajib tapi juga sholat-sholat nawafil (sunnah) baik muakkad maupun ghoiru muakkad.

Ciri yang ketiga adalah menafkahkan sebagian rezeki yang dimilikinya,baik nafkah wajib seperti menafkahi keluarga, kaum kerabat, hamba sahaya atau zakat maupun nafkah sunnah (semua pemberian baik materi maupun non materi di luar nafkah wajib). Menafkahkan sebagian rezeki pada hakikatnya adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah swt (taqarrub ilallah). Dalam QS Adz Dzariyat ayat 19, Allah menjelaskan bahwa dalam harta yang kita miliki ada harta orang lain. Zakat pada hakikatnya membersihkan harta kita dari bercampur dengan harta orang lain.

Infaq, shodaqoh dan zakat pada dasarnya adalah pemberian kepada orang lain, Yang membedakannya adalah infak, pemberian berupa materi sedangkan shodaqoh lebih luas, yaitu mencakup pemberian non materi seperti senyum, menyingkirkan duri di tengah jalan. Sedangkan zakat, hartanya tertentu dan disalurkan kepada golongan tertentu.

Balasan atas orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah disebutkan dalam QS Al Baqarah: 261 “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

kontributor : Rudhi Kurniadi

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru