Tips Menjadi Orang Bijak Menurut Al Quran

Materi Kuliah Subuh Masjid Raya Taman Yasmin
Sabtu, 30 Maret 2013
Pemateri : Ust. Ahmadi Usman
Kontributor : HBS

kuliah subuh masjid rayaManusia pada umumnya memiliki sifat yang tidak keluar dari tiga hal karena tiga hal itu Allah Swt telah tanamkan dalam diri setiap manusia dan itu merupakan kelebihannya. Yang pertama al aql, manusia memiliki kelebihan karena memiliki akal. Yang kedua manusia memiliki keutamaan yang disebut al qalbu (hati) dan yang ketiga  manusia memiliki hawa nafsu. Dari tiga hal inilah manusia dianjurkan agar selalu mengarahkan, selalu mengatur, selalu mendidik. Kalau berbicara mengenai pembangunan karakter, maka karakter harus dibangun dari tiga hal tadi. Bagaimana mengendalikan akal, hati dan hawa nafsu. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka mungkin akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupannya. Jika manusia tidak menggunakan akalnya maka akan berakibat kebodohan. Apabila manusia tidak menggunakan hatinya maka ia tidak memiliki keimanan. Dan apabila ia tidak menggunakan hawa nafsu maka ia tidak memiliki keinginan. Jadi antara akal, hati dan hawa nafsu ini selalu berupaya untuk disatukan. Dalam bahasa lain yang sering kita bahas dari Al Qur’an, Allah Swt berfirman bahwa semuanya kembali kepada hati yang menggerakkan pancaindera. Yang tiga tadi disebut wafilatul ilmi wal iman karena masuknya ilmu dan iman dari tiga hal tadi yaitu dari akal, hati dan hawa nafsu.

Tadi telah dibacakan Qur’an surat An-Nahl (s.16) ayat 125 yang artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ayat ini kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk berdakwah dengan tiga cara. Cara yang pertama adalah cara hikmah, yang kedua dengan pelajaran yang baik dan ketiga apabila ia menolak maka membantahlah dengan cara yang baik. Dan jangan dari belakang, yaitu rebut dulu, baru dinasehati lalu dengan hikmah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa itu hikmah? Hikmah secara lughat (bahasa) artinya banyak sekali. Adil, sabar, ilmu, Nabi, Qur’an, Injil itu dalam Al Qur’an disebut hikmah. Hikmah juga diartikan sebagai hakim, orang yang teliti, setiap kejadian hidup ia berusaha memahaminya. Ada juga diartikan sebagai orang yang yakin dengan urusannya, jadi kalau ada orang selalu ragu ia disebut tidak hakim, tidak hikmah. Orang yang hikmah adalah orang yang mampu memadukan semua hal dalam kehidupannya. Contohnya adalah bagaimana Lukman yang disebut al hikmah ketika Allah Swt memberikan hikmah  kepada Lukman. Lukman ini orangnya pendek, kecil, hitam, ada yang mengatakan tukang jahit, tukang jagal dsb.nya. tapi namanya disematkan dalam Al Qur’an sampai hari ini disebut. Bahkan bukan saja disebut dalam Qur’an tapi namanya sendiri merupakan nama sebuah surat dalam Al Qur’an (s.31). Kita harus mencari rahasianya. Kalau Nabi dari ribuan hanya belasan yang disebut namanya sebagai nama surat dalam al Qur’an. Ada orang alim yang bukan Nabi yang namanya dijadikan nama surat ada beberapa seperti Lukman, Mariam. Dari 114 surat ada perwakilan nama dari tumbuh-tumbuhan seperti At-Tin, nama binatang An-Ankabut, An-Nahl, nama-nama benda planet semuanya ada rahasianya. Karena itu kita perlu mencari jawab kenapa nama Lukman dijadikan nama surat dan ia disebut dalam surat tersebut. Ternyata Lukman itu mempunyai pondasi dasar pendidikan karakter. Kalau kita kaji dalam surat Lukman ternyata ada delapan cara bagaimana menanamkan pendidikan karakter dan itu sukses. Artinya jika Allah Swt melanggengkan apa yang dilakukan oleh Lukman  berarti itu menjelaskan orang-orang yang selamat didalamnya, karena didalam Al Qur’an itu hanya ada dua golongan yaitu yang selamat dan yang tidak selamat. Orang-orang yang selamat seperti dari Nabi Adam, Nuh, Luth, yang di goa al kahfi dsb.nya dan orang-orang yang tidak selamat seperti Fir’aun, Qorun, Hamman dsb.nya. Diantara yang dimasukkan Allah sebagai orang baik adalah Lukman. Kita harus belajar banyak tentang hikmah.

Menurut ulama paling tidak ada tiga hal yang menjadikan seseorang itu punya sikap bijak. Ia punya sikap yang betul-betul menenteramkan orang-orang di sekelilingnya.

Yang pertama adalah dengan ilmu karena yang beriman, yang ihsan, yang sabar yang hakim semuanya pakai ilmu. Karena pentingnya ilmu itulah mengapa Imam Bukhari selalu menekankan di bab-bab pertama bukunya tentang ilmu, iman dan niat. Ini menunjukkan ilmu itu menjadi pondasi utama. Lalu ilmu apa yang harus kita tanamkan pertama kali. Dari segi kefarduannya, setiap orang ada tiga hal yang perlu ditanamkan dalam dirinya, yang lain tambahan. Yang pertama adalah ilmu tentang bagaimana mengetahui Allah Swt dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya (ilmu tauhid). Inilah ilmu yang banyak ditanamkan oleh para ulama, bahkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Makanya ada seorang sahabat karena ingin efektif dalam hidupnya bertanya kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah amal utama (afdhal) apa yang harus dilakukan?.” Rasulullah menjawab berdasarkan segi psikologinya masing-masing. Ada yang dikatakan Rasulullah yang utama al jihad, birulwalida’in, shalat, dsb.nya. Dengan itu Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat bagaimana mengefektifkan hidupnya. Bagi kita yang tidak bisa bertemu dengan Rasulullah maka kita bertemu dengan hadits-hadits beliau, kita cek apa yang disebut dengan afhdalil a’mal. Kita harus tahu jalan tidak nyasar dalam mengefektifkan hidup di dunia padahal kalau nyasar di dunia banyak jalan untuk menyelamatkan diri, tetapi kalau nyasar di akhirat mau Tanya siapa, mau minta tolong siapa karena pada waktu itu manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Maka mari kita bangun sikap bijak kita dengan ilmu. Imam Syafei pernah berkata:”Barangsiapa yang ingin bahagia dalam setiap aspek kehidupan di dunia dan akhirat maka dia harus memiliki ilmu.” Ada hadits lain riwayat Abu Daud yang panjang yang terkait ilmu:”Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan harta, tetapi mereka mewariskan ilmu.” Maka barangsiapa yang dapat mengambil ilmu tersebut termasuk orang-orang yang beruntung sekali. Orang beriman, orang beramal sholeh, orang menasehati semuanya butuh ilmu. Jadi ilmu ini menjadi pembentukan karakter manusia. Yang menjadi masalah adalah konsentrasi kita itu dibuyarkan oleh banyak hal (seperti TV dll) sehingga waktu habis untuk hal-hal yang sia-sia. Musuh-musuh kita tahu bagaimana caranya agar kita tidak berilmu dengan cara disibukkan dengan urusan-urusan duniawi.  Coba simak apa yang dikatakan guru Imam Syafei kepadanya agar meninggalkan kemaksiatan. Bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya dari Allah tidak mungkin masuk kedalam hati orang-orang yang bermaksiat. Hati harus bersih agar ilmu bisa masuk. Mengapa Imam Waqi’ guru Imam Syafei masih menasehati seperti itu padahal Imam Syafei di umur 7 tahun sudah hafal Al Qur’an, di umur 10 tahun sudah hafal ribuan hadits dan di umur 18 tahun sudah baca kitab Al Muwatho’ yang kalau kita bawa saja keberatan. Dalam ilmu psikologi kalau konsentrasi sudah dirasuki dengan kemaksiatan maka akan menguras tenaga. Imam Bukhori mampu menjelaskan 100 hadits yang sudah diutak-atik kepada para ulama hadits di Baghdad dengan sekali jawab. Ternyata kedekatan dengan Allah Swt menyebabkan orang itu mudah hafal Qur’an, hadits dll seperti contohnya pada diri Imam Bukhori. Allah dan Rasul-Nya sudah maksimal mengajarkan kita. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas  yang diriwayatkan Imam Tirmidzi  Rasulullah bersabda:”Ya Fulan, maukah engkau aku beritahu hal-hal yang penting dalam kehidupanmu. Pertama, jagalah Allah dalam dirimu maka Allah akan menjaga dirimu. Kedua, jagalah Allah maka Allah akan selalu ada dalam setiap aktivitasmu dan yang ketiga, kalau mau minta mintalah hanya kepada Allah. Kalau minta pertolongan hanya kepada Allah Swt. Seandainya seluruh umat di dunia ini ingin memberikan manfaat kepada dirimu, tidak akan kamu dapatkan manfaat itu sedikitpun kecuali Allah ijinkan. Kalau seluruh dunia berusaha memberikan mudharat atau bahaya kepada dirimu, tak akan tersentuh dirimu kecuali dengan ijin Allah. Catatn takdirmu sudah ditulis dahulu kala. Dan tulisan-tulisan itu sudah ada. Maka kalau kita ingin menafsirkan surat Al Qalam (s.68):

” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,.”

, menurut para ulama mutafsirin, pulpen itu sudah diadakan lima puluh ribu tahun sebelum dunia ini diciptakan  dan sudah menulis takdir manusia karena Allah lah yang paling tahu. Allah memberikan kebaikan keburukan dan apapun yang diputuskan orang Allah sudah tahu. Namun Allah ingin melihat seberapa jauh kita punya kekuatan, kualitas sebuah pekerjaan manusia. Dalam Qur’an surat Al Mulk (s.67) ayat 2 Allah Swt menjelaskan tentang kualitas ilmu.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Jadi kualitas disini yang dimaksud adalah kualitas ilmu. Jadi syarat pertama orang hikmah itu berilmu.

Dalam hadits yang disebutkan diatas Rasulullah memberikan pagar, kalau kalian ingin selamat maka kalian harus menyelamatkan diri. Ibnu rajab al Hambali menyebutkan delapan hal yang harus dijaga. Yang pertama, jagalah hak-hak, ketentuan-ketentuan Allah seperti disebutkan dalam Al Qur’an. Jagalah syariat Allah Swt. Hanya umat Islam yang menjaga syariat Allah. Kita punya Nabi yang pengikutnya ribuan tahun yang lalu karena punya pondasi Qur’an surat Al Imron (s.3) ayat 104 dan 110:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Kalau kita bandingkan dengan Nabi Musa, pengikutnya waktu pindah ke Turki dalam empat puluh hari sudah menyembah sapi yang dibuat kaum Samiri, mereka kembali musrik. Tetapi umat Nabi Muhammad dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang masih banyak yang beriman kepada Allah Swt.  Surat Al Imron ayat 104 dan 110 tersebut menjadi landasan mengapa kita masih mengenal Al Qur’an dan hadits sampai sekarang. Kita lihat umat Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun, ada yang mengatakan itu umurnya tapi ada yang mengatakan itu lama dakwahnya. Proses pembuatan perahu Nabi Nuh itu 350 tahun. Kayunya ditanam sendiri sampai berapa 100 tahun baru ditebang lalu berusaha dibuat perahu sampai Allah Swt tentukan bagaimana cara membuat perahunya. Jadi 400 tahun pertama konsentrasi beliau adalah dakwah. Sisanya untuk mempersiapkan diri ketika Allah Swt menurunkan azab mereka sudah siap. Nabi Nuh pernah bertanya kepada Allah bagaimana caranya mengetahui kapan azab itu datang yang dijawab Allah Swt kalau kamu punya tanur (tungku dari tanah liat yang sangat rapat untuk membuat roti dimana airpun tak bisa masuk) dan kemasukan air maka itulah tanda azab akan datang. Ketika azab datang umat Nabi Nuh yang naik perahu ada 60 atau 80 orang artinya setiap 12 tahun 1 orang masuk Islam. Beda dengan waktu Nabi Muhammad dimana per hari yang masuk Islam 11 orang dalam 23 tahun. Orang menyembah batu, patung, berhala itu bermula dari umat Nabi Nuh karena kerinduan kepada orang-orang sholeh yang sudah meninggal. Lambat laun benda-benda itu dijadikan curahan hati lalu menjadi sesembahan mereka. Sedangkan patung yang di Mekah dibawa Luhay, pemimpin orang Jurhum yang sangat ditakuti. Luhay berkelana sampai ke daerah bekas umat Nabi Nuh dulu yang menyembah patung untuk minta satu patung (kemudian dinamai Hubal) lalu ditaruh di dalam Ka’bah. Hubal inilah yang pertama kali dihancurkan oleh Nabi saat penaklukan Mekah selain 360 patung lainnya disekeliling Ka’bah yang mewakili kabilah (suku). Umat Nabi Nuh tetap hidup dalam ajaran beliau hanya ratusan tahun, setelah itu kembali musyrik. Umat Nabi Luth habis karena tempat mereka tinggal dihancurkan Allah. Umat Nabi Musa juga sebagian besar kembali musyrik. Namun umat Nabi Muhammad sudah 1400 tahun lamanya Al Qur’an dan hadits masih kita dengar. Maka beruntunglah kita menjadi umat Nabi Muhammad Saw karena merasakan nikmatnya iman dan Islam padahal Rasulullah telah jauh lama meninggalkan kita.

Kemudian syarat yang kedua orang itu menjadi hikmah atau bijak adalah mempunyai sifat yang halim, sifat yang dapat menstabilkan emosinya, sifat yang seimbang dalam hidupnya diantara dua sifat yang ekstrim misalnya penakut dan pemberani, dia takut kalau salah dan berani kalau benar. Orang yang halim itu adalah orang di pertengahan.  Allah menjelaskan dalam Qur’an tentang orang halim, yaitu informasi kepada Nabi Ibrahim bahwa nanti beliau akan mempunyai anak yang bersifat halim yaitu Nabi Ismail. Setelah lama Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail lalu pulang dan bertemu Nabi Ismail dan Siti Hajar dalam keadaan yang mengharukan, Nabi Ibrahim mengajak Nabi Ismail jalan-jalan. Nabi Ibrahim memberitahu Nabi Ismail tentang mimpinya yang mana beliau diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ismail minta kepada Nabi Ibrahim agar mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepada beliau dan memohon agar Allah menjadikannya termasuk orang-orang yang sabar. Inilah bukti sifat halim Nabi Ismail dimana sesaat baru melampiaskan kerinduannya kepada ayahnya ada perintah untuk menyembelihnya. Nabi Ismail tahu Nabi Ibrahim mencintai Allah, sedang dia mencintai ayahnya. Inilah bukti kestabilan emosi Nabi Ismail. Namun pada zaman sekarang sifat halim ini mulai hilang, padahal sifat halim inilah yang membuat orang bisa menjadi bijak. Makanya kita merindukan pemimpin yang bijak.

Yang ketiga adalah sifat tenang dalam menghadapi masalah. Sumber kerusakan seseorang bisa disebabkan adanya sifat yang tidak tenang, ketergesaan karena didalam ketenangan akan menghasilkan keselamatan, sedangkan didalam ketergesaan akan menghasilkan penyesalan. Ketergesaan itu adalah perbuatan syetan. Oleh karena itu agar menjadi bijak seseorang setidaknya harus mempunyai ketiga sifat ini. Jadi kalau ada orang atau pemimpin yang sedikit-sedikit marah sulit dikatakan bahwa ia adalah orang atau pemimpin yang bijak. Ketika ada masalah tenang dulu, apa masalahnya, tidak terbakar emosinya, lalu dicari solusinya. Ini semua menggambarkan bagaimana Allah Swt memberikan kepada kita sikap hikmah yang memang harus ditanamkan.

Kembali kepada hadits yang telah disebutkan diatas bahwa Nabi tidak mewariskan harta tapi ilmu. Hadits ini mengisyaratkan bahwa kalau kita ingin mendapatkan ulama maka harus ada kaderisasi. Ulama yang dikatakan sebagai pewaris para Nabi itu tidak muncul secara tiba-tiba. Jadi orang-orang yang hikmah itu harus dikader. Lukmanul Hakim berusaha mengkader anaknya agar menjadi orang yang bijak. Nabi Daud mengkader anaknya yaitu Nabi Sulaiman agar menjadi orang yang bijak. Maka marilah kita berusaha mengkader diri kita atau orang-orang di sekitar kita sehingga kita mampu menghadapi hidup ini dengan tenang tanpa menimbulkan hura-hara disana-sini yang menyebabkan kekuatan umat Islam rapuh, semakin jauh dari keinginan kita semua.

Imam Syafei menegaskan bahwa sesungguhnya siapa yang dapat mengamalkan surat Al ‘Ashar (s.103)

“Demi masa. “

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, “

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

secara istiqomah sudah cukuplah dia dalam menjalani kehidupan ini dengan tenang.

Wallahu a’lam bishshawab.

Silakan share dan like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

PAPAN INFORMASI

Saat ini program GPKSB kami sedang bagi-bagi stiker motivasi shalat berjamaah, untuk mobil dan sepeda motor. Bagi yang belum mendapatkan, silakan hubungi Sdr Hamdan selagi persediaan masih ada.

Dalam waktu dekat insya_allah akan diadakan Seminar Shalat Sempurna, tunggu info tanggalnya

Buletin Dakwah Islam Jumat

Komentar Terbaru